Kerjasama Negara Afrika
July 13, 2006
1. Diskusi Interaktif dilaksanakan tanggal 19 April 2006 di Departemen
Luar negeri dengan pembicara tiga Dubes RI : (i) Duta Besar RI untuk
Ethiopia merangkap Djibouti dan Somalia; (ii) Dubes RI untuk Tanzania
merangkap Burundi, Rwanda, Comoros, Zambia, Mauritius; (iii) Dubes RI untuk
Kenya merangkap Seychelles, Uganda, Mauritius, UNEP, UNHCS, sebagai
moderator diskusi adalah Direktur Afrika Departemen Luar Negeri.
2. Hubungan Indonesia dengan negara-negara di Afrika terutama Afrika
Timur secara politik sangat bagus, karena Indonesia sudah melakukan hubungan
diplomatik dengan negara di Afrika timur sudah lebih dari 20 tahun. Akan
tetapi Kedekatan Indonesia dengan negara Afrika timur dalam bidang politik
tidak di barengi dengan peninmgkatan hubungan kerjasama di bidang lain. Ini
terjadi karena banyak pihak di Indonesia belum melihat Afrika sebagai salah
satu mitra kerjasama yang menguntungkan. Dalam paparannya ketiga Dubes RI di
Kawasan Afrika bagian Timur menyampaikan bahwa Afrika merupakan pasar untuk
produk Indonesia yang sangat potensial, tetapi masih terdapat banyak
hambatan di samping peluang yang sangat besar.
3. Peluang bagi Indonesia adalah :
a. Banyak produk-produk Indonesia yang telah beredar dan dikenal luas
di pasaran Afrika karena harga dan mutu yang baik (mass cheap production),
seperti garment, tekstil, batu baterai, kertas/produk kertas, bahan kimia,
tissue, baterai kendaraan, sabun mandi, sabun cuci, glassware, benang,
furniture, enamelware, barang-barang plastik, makanan (mie instant “mie
duo”, wafer, permen “Kopiko”, energen), rak tv, dll. Namun, sebagian dari
produk-produk Indonesia tsb diimpor oleh negara-negar Afrika melalui negara
ketiga, seperti Singapura, China, Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia.
Sehubungan dengan itu, kalangan swasta di Afrika bagian timur pada umumnya
menginginkan adanya suatu peningkatan hubungan perdagangan bilateral secara
langsung dengan Indonesia, sehingga tidak perlu melalui negara ketiga guna
menghemat waktu dan biaya.
b. Minat para pengusaha di Afrika bagian Timur untuk memperoleh
informasi produk-produk andalan ekspor Indonesia dan keinginan bertemu
langsung dengan para pengusaha/perusahaan Indonesia guna melakukan kontak
bisnis* *semakin meningkat. Tingginya minat para pengusaha Afrika bagian
Timur tersebut terbukti dengan semakin besarnya jumlah pengusaha Ethiopia
Afrika bagian Timur yang hadir mengunjungi Pameran Produk Ekspor Indonesia
(PPE) di Jakarta dari tahun ke tahun.
c. Investasi di Afrika bagian timur juga tidak memerlukan modal yang
sangat besar karena banyak alternatif produk yang sangat mereka butuhkan.
Barang yang bisa menjadi alternatif pengusaha Indonesia jika ingin melakukan
investasi di sana antara lain : alat tulis kantor (stationery), kertas &
produk kertas, garments & tekstil, sabun & deterjen, bahan bangunan,
elektronik, plywood, makanan/foodstuff, batu baterei, accu kendaraan, bahan
kimia, farmasi, dan peralatan medis, sepatu/sandal, korek api, perlengkapan
rumah, dll.
Sedangkan hambatan yang secara umum ditemui adalah :
a. Persepsi masyarakat dan pengusaha Indonesia mengenai kawasan Afrika
selalu terkait dengan kemiskinan, kelaparan, perang saudara, kejahatan serta
penipuan. Sebetulnya untuk saat ini persepsi tersebut pada kenyataannya
msudah berangsur-angsur hilang dari kawsan Afrika.
b. Keengganan para pengusaha Indonesia untuk menjajaki dan mencoba
peluang pasar baru non-tradisional seperti pasar Afrika bagian Timur dengan
alasan jarak yang jauh, margin keuntungan yang tidak terlalu besar
dibandingkan dengan hasil ekspor ke negara-negara maju, resiko yang akan
dihadapi, dll.
c. Kurang tanggapnya para pengusaha Indonesia dalam meraih peluang
pasar dan kesempatan ekspor Afrika bagian Timur, antara lain, banyak
pengusaha Indonesia yang tidak memberikan tanggapan/jawaban atas telepon
ataupun surat/faks yang dikirimkan oleh para pengusaha di negara-negara
Afrika bagian Timur yang meminta informasi produk/jasa, rincian harga,
ataupun kemungkinan impor produk/jasa tsb dari Indonesia. Hal ini juga
tampak dari kurangnya antusiasme para pengusaha Indonesia dalam menanggapi
berbagai informasi peluang perdagangan yang sering dikirimkan oleh KBRI di
negara-negara Afrika bagian Timur kepada para pengusaha Indonesia, KADIN,
ataupun BPEN.
d. Kurang agresifnya para pengusaha Indonesia maupun BPEN untuk
menjajaki peluang pasar di negara-negara Afrika bagian Timur dengan mencoba
mengadakan pameran dagang skala kecil ataupun temu bisnis bekerjasama dengan
KBRI sebagai fasilitator (dalam penyediaan ruangan pameran mini dan
pengaturan acara temu bisnis dengan pengusaha di negara-negara Afrika bagian
Timur).
e. Hal-hal tsb diatas telah membuat pelaku bisnis dari negara lain di
Asia seperti Thailand, Singapura, Malaysia, dan China masuk ke pasar
negara-negara Afrika bagian Timur dengan cukup agresif. Hingga kini Thailanddan
China merupakan pesaing Indonesia untuk beberapa komoditi ekspor seperti
garment dan tekstil. Produk-produk garment dan tekstil dari Thailand dan
China kini dijual dengan harga lebih murah dari produk sejenis dari
Indonesias. Sedangkan Malaysia cukup agresif mengekspor produk-produk
makanannya ke negara-negara Afrika bagian Timur, hingga kini banyak produk
makanan buatan Malaysia di Ethiopia, seperti saus tomat, sambal botol, mie
instant, minuman, makanan/buah- buahan kaleng, dll. Tampak bahwa
produk-produk dari Thailand, China, Malaysia, dan Singapura telah mulai
meraih perhatian konsumen di negara-negara Afrika bagian Timur dibandingkan
produk-produk dari Indonesia
f. Negara-negara tsb (Thailand, China, Malaysia, dan Singapura) cukup
aktif menggunakan kesempatan dengan mengirimkan misi dagang ke negara-negara
Afrika bagian Timur, mengikuti pameran dagang di negara-negara Afrika bagian
Timur, melakukan pertemuan dengan para pejabat negara-negara Afrika bagian
Timur, KADIN dan para pengusaha negara-negara Afrika bagian Timur lainnya,
serta mengundang pengusaha negara-negara Afrika bagian Timur ke negara
mereka untuk mengetahui potensi kerjasama perdagangan, dll.
g. Sedikitnya informasi mengenai pameran-pameran dagang yang diadakan
di Indonesia dan terlambatnya brosur-brosur pameran tsb diterima oleh KBRI
di negara-negara Afrika bagian Timur. Informasi pameran dagang yang teratur
diterima oleh KBRI di negara-negara Afrika bagian Timur hanyalah Pameran
Produk Ekspor (PPE)/Resource Indonesia, sedangkan informasi mengenai
pameran-pameran lainnya sering tidak diterima oleh KBRI.
h. Masih kurangnya koordinasi dan pertukaran arus informasi antara
instansi terkait di Indonesia (BPEN, KADIN, Depperindag, pengusaha) dengan
KBRI Addis Ababa, sehingga sedikitnya informasi yang diterima oleh KBRI
negara-negara Afrika Timur.
4. Dari uraian tersebut di atas hal-hal pokok yang dapat kami simpulkan
adalah sebagai berikut :
a. Afrika merupakan pasar yang potensial bagi produk Indonesia.
b. Afrika menghendaki peningkatan perdagangan bilateral langsung dengan
Indonesia tanpa melalui negara ketiga.
c. Para pengusaha Afrika timur berminat untuk memperoleh informasi
produk-produk andalan Indonesia dan ingin melakukan kontak langsung dengan
pengusaha Indonesia
d. Peluang bagi para investor Indonesia
5. Ketiga Dubes tersebut juga menyampaikan untuk mengurangi hambatan
yang terjadi tersebut mereka akan berusaha membantu jika ada pengusaha atau
masyarakat Indonesia yang ingin melakukan penjajagan dengan pengusaha di
negara-negara Afrika bagian Timur. KBRI di negara-negara Afrika bagian Timur
akan menyediakan akomodasi di wisma KBRI serta akan menyediakan fasilitas
kendaraan. KBRI juga bersedia menjadi fasilitator untuk mempertemukan dengan
pihak pihak terkait di negara-negara Afrika bagian Timur.