Where Big Is Beautiful

July 13, 2006

It’s a scene familiar to
moviegoers: as fires burn, bombs explode and shrapnel
flies, the ash-smeared hero marches on, undaunted and
unafraid. Much like Indonesia’s stock market. In the
face of leadership upheavals, civil rebellions and
financial turmoil that would rattle its neighbors, the
Jakarta Stock Exchange has stood out as one of the
hottest in all of Asia. Behind that surprising
performance lies a major shift in the way foreign
investors watch emerging markets.
Read the rest of this entry »

Gonjang Ganjing Media

July 13, 2006

Sekitar 10 tahun lalu, mungkin kita tak membayangkan perkembangan industri media di Indonesia bisa sedahsyat sekarang. Dulu, di era Orba, hanya ada lima atau enam koran besar berskala nasional, plus majalah berita, serta beberapa stasiun televisi nasional.

Kini, kita malah sering bingung saat memutuskan koran apa yang akan kita jadikan referensi utama. Atau channel berapa yang harus dipanteng untuk menyaksikan siaran favorit.
Read the rest of this entry »

Kematian Media Cetak

July 13, 2006

Sekitar 20 tahun lagi, media cetak akan mati. Ramalan itu pasti memanaskan telinga banyak pemilik dan pekerja di industri media cetak — termasuk para jurnalisnya.

Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa, internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan media cetak akan mati. Karena itu, tak heran kalau perdebatan sengit soal itu terjadi pada diskusi yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Read the rest of this entry »

TV Kabel Baru Indonesia

July 13, 2006

Tidak seperti yang dikira orang, Indonesia sebenarnya memiliki enam televisi swasta dan satu televisi pemerintah. TVRI dengan dua saluran, dan enam televisi swasta, RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, dan terakhir Indovision. Beda Indovision dengan yang lain adalah karena memiliki sekaligus beberapa channel, yaitu: CNN, Discovery, TNT Cartoon Network, ESPN, dan HBO. Berarti Indovision ini TV yang menyiar dengan 100% program asing, padahal pemerintah “menghimbau” agar TV swasta untuk menyiar 20% asing dan 80% lokal. Dengan jumlah pelanggan yang kini 45.000, Indovision tidak dapat lagi disebut sebagai TV dengan pemirsa terbatas. Sebagai perbandingan, jumlah pemirsa RCTI paling tinggi hanya 10.000 dalam satu time slot. Berapa kira-kira pemirsa Indovision dalam satu time slot. Melihat angka-angka ini, apakah aturan 20:80 asing:lokal akan tetap akan diterapkan, meski kurang berpijak pada realita. Karena itu dari enam TV swasta tersebut hanya satu yang disebut TV Kabel di Indonesia, yaitu Indovision karena menuntut pembayaran jika ingin menikmati siarannya. Lima channel yang disediakannya berisi program yang langsung dipancarkan dari Amerika yang kemudian dipancarkan kembali melalui satelite yang disewa Indovision untuk dipancarkan kembali ke wilayah Indonesia.

Australia, salah satu negara dengan teknologi majunya, ternyata baru saja memasuki era Pay TV (TV Kabel) pada akhir tahun 1995 lalu. Dengan populasi sebesar 18.2 juta jiwa, ada 6.3 juta rumah yang memiliki televisi. Dari 6.3 juta rumah itu 80% memiliki Video Cassette Player, tetapi hanya 1% yang berlangganan Pay TV atau Multichannel Service. Dua perusahaan, Optus Vision dan VisionStream adalah perusahaan yang mengawali era Pay TV di Australia. VisionStream hasil kerjasama antara Rupert Murdoch Foxtel dan sebuah perusahaan telepon utama di Australia, Telstra. Melihat perkembangan baru ini, George Lawton, seorang pengamat teknologi komunikasi dari Amerika menulis di majalah International Cable edisi Desember 1995, “…. Initially, Australian consumers will be offered a greater choice of programming. But it will not be long before they’re playing with the interactive services like video-on-demand and home shopping that are being touted as the future of the industry.” Australia, segera akan menjadi bagian dari kemajuan siaran TV dengan sistem baru yang kini mengglobal.

TV Kabel yang kini sedang dibangun di Australia ini adalah sebuah bagian dari perkembangan peradaban manusia yang menjadi bagian dari era informasi seperti yang disebutkan oleh Alvin Tofler. Indonesia kini masuk pada era informasi dengan diawali oleh pesatnya pertumbuhan industri di segala sektor. Perusahaan penyiaran atau penyedia program televisi adalah salah satu pilihan dari sekian banyak industri. Perusahaan TV Kabel baru yang tengah dibangun belakangan ini telah menjadi isu yang ramai dibicarakan di kalangan orang-orang televisi. Siapakah mereka? Dari kelompok perusahaan manakah mereka? Multivision (bukan Indovision) dari Bimantara dan Lippo adalah satu TV Kabel yang April ini bakal menyiar. Sementara itu MGM (Metro Goldwyn Meyer) tengah mengintip peluang yang masih ada. Mari kita tunggu kehadiran TV-TV baru itu. Mari kita berharap agar Undang-undang Siaran kelak lebih berpijak pada hakikat televisi, sehingga tidak ada lagi aturan semacam SK Menpen No.111 itu.

Tidak seorang pun yang membayangkan bagaimana media bisa berkembang ke arah TV Kabel ketika Johannes Gutenberg menciptakan alat pencetak pertama. Media cetak kini berkembang seperti yang kita nikmati sekarang. Begitu juga ketika Alexander Graham Bell mencoba pesawat telepon pertamanya, bahwa kabel telepon kemudian bisa menyampaikan gambar hidup dan suara di pesawat televisi.

TV kabel di Amerika telah merubah sejarah media dalam dua decade ini. Dari sebuah jaringan kecil di sebuah kota kecil, kemudian berkembang menjadi jaringan multi nasional. Masing-masing melayani jutaan pelanggan. TV Kabel di Amerika merupakan media yang dinikmati lebih dari 60% rumah tangga. TV Kabel di masa depan adalah media bagi produk-produk informasi dan hiburan yang disampaikan melalui berbagai sistem ke rumah-rumah. Read the rest of this entry »

DBS atau sering juga disebut DTH (Direct To Home) adalah siaran televisi melalui satelit langsung ke pesawat televisi (melalui antena), seperti yang dilakukan oleh Indovision di Indonesia. DBS mampu menyediakan puluhan saluran. Pada pertengahan tahun 1994 di Amerika telah dikembangkan dan dipasarkan sistem DBS yang lebih baru yaitu sistem digital, sehingga siaran DBS kini bisa memilki kualitas gambar dan suara digital, juga saluran yang lebih banyak. Peralatan yang harus dimiliki untuk menangkap siaran DBS yang digital itu sering disebut dengan DSS (Digital Satelite System). Meski demikian biaya instalasi di rumah pelanggan tidak lebih mahal dari biaya instalasi untuk siaran satelit dengan sistem sebelumnya. Read the rest of this entry »

Televisi sudah lama muncul sejak Vladamir Zworykin, seorang Amerika kelahiran Rusia, pada tahun 1923 menemukan Iconoscope, sebuah pesawat TV pertama. Kemudian pada tahun 1928 muncul stasiun TV pertama dengan acara yang terjadwal bernama WGY di Schenectady, New York.

Televisi terus berkembang hingga orang dapat menangkap siaran TV tidak hanya dari satu stasiun TV tetapi dari ratusan stasiun TV. Dimulai dengan antena kecil untuk menangkap siaran TV dari stasiun pemancar TV di Bumi, antena dan peralatan tambahannya berkembang ke antena piring (parabola) besar untuk menangkap siaran TV yang dipancarkan puluhan satelit di langit (menurut The Satellite’s Encyclopedia ada 1700 satelit untuk berbagai fungsi).

Sekarang siaran TV dari puluhan satelit itu bisa digabungkan pada satu atau beberapa satelit yang ditempatkan secara relatif berdekatan, seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan TV satelit bernama DirecTV di Amerika dengan satelit DBS1, DBS2, dan DBS3. Arah antena piring di rumah-rumah tidak perlu lagi dipindah-pindahkan untuk menangkap siaran TV yang berbeda-beda.

Saat ini nampak bisnis dalam memberikan layanan satelit di berbagai tempat di dunia semakin diminati banyak orang. Dengan satelit banyak yang bisa diberikan kepada banyak orang, seperti layanan hiburan, komunikasi data, dan telekomunikasi. Khusus untuk layanan hiburan menurut SkyReport.Com perusahaan riset dan berita mengenai layanan satelit, saat ini ada 5,8 juta pelanggan Direct Broadcasting Satelite (DBS) dari sejumlah perusahaan DBS di seluruh dunia. Jumlah pelanggan terbesar dimiliki oleh DirecTV pelopor DBS dari Amerika. Pelanggan perusahaan yang memiliki 175 channel ini diperkirakan pada bulan ini akan mencapai 3 juta pelanggan. Kedua terbesar adalah PrimeStar dengan 1,8 juta pelanggan. Sisanya adalah USSB, DISH, dan lain-lain.

Di Amerika televisi semacam lima televisi swasta di Indonesia telah lama ditinggalkan oleh para pelaku bisnis. Yang berkembang sekarang adalah telivisi dengan target audience yang sangat khusus seperti pada jenis pay TV. Misalnya televisi khusus olahraga, berita, film dan lain-lain. Mereka selalu berlomba-lomba untuk menggunakan teknologi terakhir. Wireless Cable yang baru saja dikembangkan dan dipasarkan beberapa tahun terakhir ini, sekarang terlihat mulai menggantikan kabel-kabel coaxial pada TV dengan jaringan distribusi kabel (TV Kabel). Teknologi ini malah menurunkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dan pelanggan. Begitu juga sekarang orang berlomba-lomba untuk bergabung dengan teknologi siaran satelit dengan sistem digital, karena dengan biaya yang tidak lebih mahal bisa mendapatkan mutu gambar dan suara yang lebih baik. Investasi yang dikeluarkan di sektor ini membengkak dengan cepat. USSB, salah satu televisi satelit digital misalnya, telah menetapkan anggaran sebesar 50 juta USD pada tahun 1996 ini untuk mempromosikan USSB lewat berbagai cara termasuk lewat Internet. Dan menurut Mary Pat Ryan senior vice president of Marketing USSB, peralatan DSS telah terjual sebanyak 1.3 juta unit dalam satu setengah tahun terakhir ini. DSS telah menjadi produk home entertainment dengan pertumbuhan paling cepat. Sementara itu Canada juga tidak mau ketinggalan dengan membangun Digital DBS TV bernama Expressvu. Read the rest of this entry »

Teknologi layanan satelit berupa penyiaran televisi dan komunikasi data terus berkembang dengan cepat. Perusahaan penyedia siaran TV dan penyedia layanan komunikasi data terus berlomba-lomba untuk menggunakan teknologi terakhir. Wireless System yang telah berkembang beberapa tahun terakhir ini, sekarang mulai menggantikan kabel-kabel coaxial dan fibreoptic pada siaran TV dengan jaringan distribusi kabel (TV Kabel). Teknologi ini justru menurunkan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan dan pelanggan. Di Jakarta sebuah perusahaan patungan antara beberapa perusahaan besar dengan nama Multimedia Nusantara mencoba terjun ke dalam bisnis Pay TV dengan sistem distribusi melalui kabel. Sayang justru sistem ini yang sebenarnya memerlukan investasi lebih besar daripada sistem yang menggunakan teknologi wireless sistem yaitu sistem distribusi siaran kepada pelanggan melalui pemancaran gelombang mikro. Wireless System sekarang dengan teknologi digital compression bahkan mampu menyediakan channel lebih banyak seperti TV Satelit dibanding TV Kabel dengan sistem distribusi kabel.

Perusahaan Multimedia Nusantara saat ini harus menanam di dalam tanah atau membentangkan di antara tiang telpon atau listrik. Setelah kabel-kabel terpasang perusahaan harus memelihara kabel, dan suatu waktu nanti bahkan mengganti yang rusak dengan yang baru. Sedang pembangunan Wireless Cable, yang lebih instant, sederhana dan tidak akan terganggu apakah Wireless Cable berada di rural, urban atau sub-urban. Instalasi antenna, converter dan signal repeater, jauh lebih murah, sehingga Wireless Cable berarti low construction cost. Investasi pada instalasi (pembangunan) Wireless Cable akan lebih terkonsentrasi pada peralatan yang akan digunakan pelanggan bukan pada network yang dibuat perusahaan. Jadi investasi yang akan ditanam oleh perusahaan dihitung secara proporsional berdasarkan perkiraan calon pelanggan. Tidak berdasarkan daerah di mana kabel-kabel akan dibentangkan lebih dahulu sebelum pelanggan tertarik untuk menjadi pelanggan.

Dengan Wireless System hanya membutuhkan paling banyak US$ 2 juta di daerah urban untuk target pelanggan rata-rata. Ini karena investasi dikeluarkan hanya pada peralatan yang akan dimiliki/digunakan oleh pelanggan. Biaya ini hanya muncul jika sudah ada calon pelanggan. Namun pada sistem distribusi dengan membentangkan kabel, perusahaan harus investasi untuk jaringannya sebesar paling tidak 60 juta US$ sebelum mulai mencari pelanggan. Sejak akhir tahun 1995 wireless system telah dikenal sebagai siaran TV dengan kualitas Direct Broadcasting Satelite, namun dengan ongkos lebih murah dari TV Kabel. Beberapa pengamat memperkirakan pelahan TV Kabel konvensional akan ditinggalkan untuk beralih pada Wireless Cable karena beberapa kelebihannya. Sayang belum terdengar di Indonesia sistem ini akan digunakan oleh satu perusahaan Pay TV misalnya mengingat luasnya aplikasi yang bisa ditawarkan oleh sistem ini seluas yang ditawarkan oleh perusahaan layanan satelit.

Layanan Satelit

July 13, 2006

DBS yang sering juga disebut DTH (Direct To Home) adalah siaran televisi yang ditangkap langsung dari satelit oleh antena televisi. DBS pertama kali dipancarkan dengan sistem analog seperti yang dilakukan oleh Indovision sebelum beralih ke digital. Pada saat itu antena yang digunakan harus besar dan dengan jumlah channel yang lebih sedikit. Sedangkan Digital DBS mampu menyediakan puluhan bahkan ratusan saluran dengan kualitas gambar seperti Laser Disc atau suara seperti Compac Disc, padahal ditangkap hanya dengan sebuah antena kecil saja. Sistem Digital ini telah dikembangkan dan dipasarkan dengan sukses sejak tahun 1994 di Amerika dan di bahagian lain di seluruh dunia. Peralatan yang harus dimiliki untuk menangkap siaran DBS yang digital itu sering disebut dengan DSS (Digital Satelite System). Meski demikian biaya instalasi di rumah pelanggan tidak lebih mahal dari biaya instalasi untuk siaran satelit dengan sistem sebelumnya.

Berbeda dengan peralatan penangkap siaran televisi satelit sebelumnya, Digital DBS hanya memerlukan antena piring yang besarnya bervariasi sebesar lebih kurang 18 inchi atau kurang dari 50 centimeter, tergantung pada merek pembuat peralatan DSS itu. Kecilnya antena piring ini dimungkinkan oleh penggunaan high power satelite yang menggunakan transponder Ku-band bukan C-band. PT Malicak untuk sistem Digital DBS Indovision baru saja meluncurkan satelit Cakrawarta 1 yang menyediakan transponder Ku-Band. Sebelum dengan Cakrawarta 1, Indovision menggunakan Satelit Palapa C2 yang memiliki beberapa transponder Ku-band. Dengan satelit Cakrawarta 1 ini Indovision pada akhir tahun1997 akan menyediakan 40 saluran digital. Kelak setelah seluruh satelit Cakrawarta diluncurkan Indovision akan menyediakan lebih dari 100 channel. Sementara itu dalam waktu dekat ini Layanan Indovision akan ditambah dengan beberapa layanan lain seperti akses ke internet melalui satelit atau Video on Demand atau juga disebut Pay Per View karena harus bayar untuk setiap satu tayangan yang ditonton. Selain antena piring untuk menangkap siaran digital DBS diperlukan dua alat lain: digital set-top decoder box dan sebuah remote control.

Dengan remote control pelanggan bisa mendapatkan fungsi on-screen menu untuk melacak dan memilih pilihan-pilihan acara yang tersedia. Pemirsa juga dapat memesan sajian pay per view dari ratusan pilihan film terbaik setiap saat diinginkan. Remote control juga digunakan untuk membatasi acara-acara yang bisa ditonton untuk mencegah anak-anak menonton acara orang dewasa misalnya.

PAY PER VIEW

Satu contoh Pay per View adalah rencanan ditayangkannya The Rolling Stones pada 12 December 1997 ini oleh DirecTV secara langsung. Pelanggan harus membayar seharga USD19.95. Kalau untuk film-film lepas biasanya harga satu filmnya adalah cuma USD1 saja, lebih murah dari yang ditawarkan oleh Pay TV lain atau dengan sistem distribusi melalui kabel. Pay Per View sekarang memang populer karena dirasakan lebih nyaman, karena tidak repot untuk keluar rumah jika menyewa melalui rental film. Setelah sekian tahun layanan Pay Per View di Amerika para pengusaha rental film mengeluh karena porsi pendapatan mereka telah diambil perusahaan penyedia layananan Pay Per View ini.

AKSES INTERNET

Jika anda adalah individual atau organisasi yang membutuhkan access internet secara serius tanpa mau mengalami delay atau menunggu lama ketika proses downloading tidak lama lagi anda akan dapat menikmati layanan DirectDuo melalui Indovision seperti yang disediakan DirecTV. DirecDuo adalah layanan TV Satelit dan sekaligus Internet Access melalui satelit. Kecepatan downloadnya luar biasa, mencapai 400 kbps, atau 28 kali lebih cepat dari modem rata-rata yang sekarang anda gunakan.

Di samping DirecDuo, DirecTV di Amerika juga menyediakan layanan terpisah hanya untuk akses ke internet dan layanan komunikasi data, yaitu DirectPC tanpa siaran TV atau disebut juga Turbo Internet Service seharga US$329.95. Karena kecepatannya yang tinggi, aplikasinya bisa sangat luas dari access ke internet biasa hingga untuk komunikasi data (mentransfer atau men-download file-file) dari satu tempat tempat lain. Biasanya layanan seperti ini digunakan oleh perusahaan misalnya Bank yang banyak mengkomunikasikan datanya dengan kantor cabang di daerah atau dengan partner bisnisnya.

HARGA PAKET LAYANAN TV SATELIT YANG DITAWARKAN

Untuk memberi gambaran mengenai perbandingan biaya berlangganan perbulan, Indovision dengan DirecTV di Amerika adalah seperti berikut.

Paket Platinum seharga US$ 47.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks dan 14 commercial-free movie channels. Paket Gold seharga US$39.99 untuk 75 channel ditambah dengan 25 specialty sports networks. Paket Silver seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 14 commercial-free movie channels. Paket Plus Encore seharga 33.99 untuk 75 channel ditambah dengan 8 Encore movie channels.

Masih ada paket-paket terpisah yang lebih murah yang ditawarkan oleh DirecTV Seperti misalnya Playboy TV seharga US$ 7,99 per 12 jam atau US$ 12,99 per bulan. Spice seharga US$ 5,99 per 90 menit untuk acara-acara primetime dari 24 network di antaranya ABC, NBC, CBS, FOX, PBS